April 10, 2021

MA-Mujiaman Golkar Solid, Arif Fathoni: Wasapadai Kecurangan Kontestasi

Surabaya (suararakyatjatim) -DPD Partai Golkar Surabaya gelar konsolidasi penguatan mesin politik di Mercure Hotel Surabaya, (3/9/2020). Pasalnya, agar kader mengenal lebih dekat dengan bakal calon wakil wali kota (Bacawawali) Mujiaman Sukirno.

“Agar mesin politik Golkar terdiri dari struktur pengurus ke tingkat kelurahan mampu menjabarkan secara detail apa alasan Pak MA-Mujiaman maju dan program lima tahun memdatang,” kata Ketua DPD Partai Golkar Arif Fathoni, kepada suararakyatjatim.com, Kamis (3/9/2020).

Intinya, menurut Arif Fathoni, pihaknya lebih memilih jalan bagaimana kader dan struktur Partai Golkar mampu meyakinkan masyarakat Surabaya.

“Agar pemilih secara sukarela datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk mencoblos MA-Mujiaman di dalam Pilkada Surabaya,” terangnya.

Terkait Partai PDIP mengusung paslon kader, sedangkan 8 Koalisi mengusung paslon non-kader. Ketua Fraksi Golkar ini mengaku, tujuan partai politik (parpol) adalah menseleksi calon pemimpin. Artinya perbedaan mengusung kader dan non-kader tidak menjadi penting.

“Yang paling penting mencari dan menemukan calon pemimpin untuk masyarakat lima tahun mendatang. Intinya dari sisi kelayakan yang kami dahulukan,” ungkap dia.

Langkah Partai Golkar, lanjutnya, yaitu Golkar lebih memilih fokus merebut suara dari pemilih.

“Jadi kehadiran MA-Mujiaman meyakinkan struktur Partai Golkar untuk mampu memberikan agitasi kepada calon pemilih dan semakin yakin,” ujarnya.

Oleh karena paslon sebelah dari kalangan kader birokrat, Fathoni berpesan, masyarakat akan menghadapi Pilkada berpotensi tidak jujur.

“Yaitu potensi ketidaknetralan Aparatur Sipil Negara (ASN) meningkat, potensi penggunaan uang APBD untuk kontestasi meningkat dan potensi penyalagunaan meningkat,” tukas Fathoni.

Namun, menurut Fathoni, Partai Golkar mempunyai keyakinan bahwa Wali Kota Surabaya meninggalkan legesi yang baik untuk rakyat Surabaya.

“Nah, agar tiga hal itu tidak terjadi. Maka Wali Kota harus membedakan yang bersangkutan bertugas sebagai Wali Kota Surabaya atau yang bersangkutan menjadi kader partai,” lanjut dia.

“Saya yakin dengan kebaikan Bu Risma selama ini tidak ingin meninggalkan setitik noda urusan kontestasi yang bisa menghapus jejak kebaikan selama 9 tahun,” tandasnya.(why/)

 

Editor: Dodik Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

© 2020 Suara Rakyat Jatim.