Mei 18, 2022

Dinkes Jatim: Imbau Masyarakat Waspada Musim DBD Tahunan di Jawa Timur

Surabaya, suararakyatjatim.com – Ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi penilaian masyarakat mungkin fokus dengan Omicron, sehingga masyarakat kurang waspada.

Oleh karena itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim Dr Erwin Astha Triyono mengimbau agar harus satu tim antara dinkes, puskesmas, dengan masyarakat. Karena kunci menangani ini dengan menerapkan 3 M dengan baik. Menguras bak-bak mandi yang selama ini menjadi tempat tumbuhnya jentik-jentik nyamuk. Kedua menutup libang atau bak yang memang jarang dikuras. Menyingkirkan atau mendaur ulang barang-barang bekas.

“Kami ingin tambahkan sedikit keilmuan kepada masyarakat. Prinsipnya infeksi dengue itu disebabkan oleh virus dengue. Penyebarannya melalui nyamuk aedes agepty. Nyamuk ini spesial. Dia tidak ada di tempat-tempat jorok. Di got atau tempat-tempat berbau tanah. Dia maunya di tempat-tempat yang jernih. Makanya kami dorong masyarakat bersama-sama menyelesaikan ini dengan level hulu. Jadi cegah jangan sampai ada nyamuk yang berkembang biak di sana, katanya, Sabtu (29/1/2022).

Lanjutnya, pihaknya sudah memaksimalkan foging. Khususnya untuk area-area yang terdapat pasien (DBD). Karena foging itu untuk membunuh nyamuk dewasa supaya tidak menularkan kepada orang lain. Sisanya kami memaksimalkan penggunaan larvasida atau abate. Tujuannya untuk mematikan jentik-jentik.

“Ke depan kami sangat butuh peran serta masyarakat untuk menerapkan 3M tadi,” imbuhnya kepada suararakyatjatim.com

Berdasarkan data, Januari 2021 totalnya 668, jadi mendekati 100 persen peningkatannya pada 2022 ini.

“Sehingga mulai sekarang kita harus berbagi perhatian. Bukan hanya Covid-19 yang tetap perlu perhatian, tapi masyarakat juga perlu berbagi perhatian.

Contoh: kalau ada demam. Manifestasi Demam Berdarah itu lebih banyak demam. Maka kita jangan hanya memikirkan kemungkinan Covid-19. Tapi juga dipertimbangkan kemungkinan demam berdarah. Sehingga masyarakat maupun tenaga medis sudah mulai boleh mencurigai kalau ada gejala demam,” ujarnya.

Memang kadang-kadang perlu upaya tersendiri. Karena untuk menegakkan diagnosis DBD ini tidak hanya diperlukan berdasarkan klinis tapi juga pemeriksaan laboratoris untuk pemeriksaan darah lengkap, sehingga kita bisa melihat berapa banyak trombosit di dalam tubuh. Juga ada pemeriksaan IGM dan IGG antidengue yang bisa dipakai untuk membuat diagnosis.

Sehingga ke depan awareness bukan hanya untuk Covid-19 saja, tapi juga harus aware, baik masyarakat maupun tenaga medis untuk kemungkinan demam berdarah,” kata dia.

Beberapa laporan, terutama dari RSU Dr Soetomo angka rawat inapnya sudah mulai meningkat menjadi 67 persen. Dan ini bagus sebenarnya. Kenapa bagus? Rawat inap tidak lagi hanya untuk pasien Covid-19, tapi juga bisa digunakan untuk pasien-pasien non Covid-19. Kami belum menghitung dari 67 persen itu berapa persennya yang dipakai untuk demam berdarah.

Meskipun saran kami untuk masyarakat kabupaten/kota. Bila ada kecurigaan demam berdarah, lebih baik rawat inap. Kenapa? Karena terapi demam berdarah itu yang paling penting satu: cairan. Karena dari pada kecolongan, lebih baik dirawat di rumah sakit, diberi infus, sambil dimonitor, dan penyakit ini spesial akan sembuh sendiri dalam waktu tujuh hari periode demam. Jadi kalau dia datang panas hari ketiga, secara teoretis hanya butuh waktu empat hari rawat inap.

Masalahnya, untuk menuju tujuh hari itu ada dua kemungkinan ancaman yang tidak bisa diprediksi. Pertama ada kemungkinan terjadinya syok atau trombosit yang terus menurun menyebabkan perdarahan.

Meskipun kasusnya sangat kecil terjadinya komplikasi ini, tapi itu akan sangat membantu kalau itu dilaksanakan sambil rawat inap. Karena monitornya lebih baik.

Pasien didominasi rentang usia berapa?

Rentang usia dominan 5-14 tahun. kurang lebih sekitar 17 pasien. Itu yang kami khawatirkan. Kenapa? Ini hanya asumsi yang mungkin hanya bisa dipakai untuk kehati-hatian kita. Kenapa anak-anak itu lebih punya risiko? Karena demam berdarah itu pada hari ketiga biasanya demamnya turun. Kalau demam turun anak-anak merasa nyaman. Akan main dia. Kalau nanti main, maka risiko dua tadi tidak bisa terprediksi. Dan ketika itu terjadi. Kita akan terlambat sampai ke rumah sakit. Sehingga begitu ada potensi demam, lebih baik sekarang kita mulai curiga: kemungkinan Covid-19 bisa, kemungkinan demam berdarah juga bisa. Sehingga cepat dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium dan dimonitor di rumah sakit.

Status KLB?

Pada prinsipnya, informasi yang kami berikan ini mendorong semua pihak harus tetap waspada. Tetap kami akan monitor terus, perkembangan dari hari ke hari dari untuk kabupaten/kota. Tapi yang menjadi kunci, bagaimana mendisiplinkan 3M demam berdarah.

Tempat yang tinggi penularannya tadi belum berstatus KLB?

Prinsipnya, KLB akan kami hitung ulang. Tapi bagi kami aware ini sudah harus disampaikan ke semua kalangan. Baik tenaga medis maupun masyarakat. Karena bukan hanya Covid-19 yang perlu perhatian, kita harus menemukan kasus sebaik-baiknya.

Ada kemungkinan juga yang namanya koinsiden, Covid-19-nya iya, demam berdarahnya iya. Tapi kami belum punya data untuk itu.

“Tapi yang jelas, saat ini kami mulai fokus, agar Dinkes, Rumah Sakit, dan tenaga medis mulai berhati-hati untuk memutuskan diagnosis pasien demam tanpa gejala lainnya. Maka kami lebih memfokuskan kemungkinan dengan demam berdarah,” ungkapnya

Omicron terbaru?

Menurutnya, Omicron itu secara teknis diagnostiknya sangat tergantung dengan WGS. Cuma ada di ITD Unair, sehingga dua periode tanggal 14 dan 22 kemarin relatif sudah bisa menggambarkan data prof Inge bahwa 90 persen kasus Covid-19 ini sudah mengarah pada Omicron.

Sehingga strategi yang disampaikan Bu Gubernur sudah klir. Daripada kita sibuk memikirkan varian, mulai sekarang kita anggap semua pasien yang positif kemungkinan Omicron. Sehingga kita menerapkan standar terbaik, begitu ketemu pasien dengan swab PCR positif, ayo kita maksimalkan Tracing, testing, dan treatment. Sehingga dengan begitu jangan sampai dengan adanya Omicron kita pilah-pilah, yang Omicron tracingnya banyak sekali. Yang Omicron seperlunya, enggak bisa seperti itu. “Karena kita anggap semua Omicron maka tracingnya harus maksimal testingnya harus maksimal. Itu isu yang lebih sederhana, sehingga kita tidak terjebak pada Omicron atau non-omicron sehingga kita bisa lebih prefentif, lebih aware, dengan peningkatan kasusnya,” katanya.

Delta masih ada. Yang tanggal 22 itu kita ketambahan 3, jadi total kurang lebih 12 pasien delta yang terdeteksi secara WGS. Sedangkan yang Omicron kan ketambahan 18 sehingga menjadi 26 pasien.

Masih mengacu data tanggal 22 karena pemeriksaan WGS-nya tidak bisa dikerjakan setiap hari. Sehingga kami tetap menunggu hasil pemeriksaan dari ITD. “Meskipun ini perkiraan kami, reagen dari WGS kan enggak sebanyak PCR. Sehingga sangat mungkin nanti Reagen terbatas, dan lebih baik kita merancang pemahaman semua PCR kami anggap Omicron, sehingga penanganannya yang terbaik,” pungkas dia.(why)

© 2020 Suara Rakyat Jatim.