Juli 25, 2026

Rawat Ingatan 30 Tahun Kudatuli:Pesan Tajam dari Pandegiling Agar Sejarah Kelam Tak Terulang

Surabaya – Peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli digelar secara khidmat di Posko Bersejarah Pandegiling, Surabaya, sebagai bentuk pengingat atas harga mahal sebuah demokrasi. Acara yang dihadiri oleh para saksi sejarah, aktivis Pro Megawati (Promeg), dan jajaran PDI Perjuangan ini bukan sekadar ajang reuni. Pertemuan ini menjadi refleksi tajam sekaligus peringatan tegas kepada pemangku kekuasaan agar praktik otoritarianisme dan pembungkaman suara rakyat tidak kembali terulang di Indonesia.

​Sebagai pengingat bagi generasi masa kini, Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) adalah insiden kelam pengambilalihan paksa kantor DPP PDI di Jakarta oleh kekuatan rezim penguasa saat itu. Peristiwa ini berujung pada bentrokan berdarah, jatuhnya korban jiwa, dan hilangnya sejumlah pejuang demokrasi. Insiden ini pulalah yang kelak memicu gelombang perlawanan massal menuju titik balik Reformasi 1998.

​Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Puti Guntur Soekarno, menegaskan bahwa Kudatuli adalah torehan sejarah kelam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang belum tuntas diselesaikan oleh pemerintah. Puti turut menyoroti kondisi kebebasan sipil saat ini yang dirasa mulai mengalami tekanan. Ia mempertanyakan apakah kebebasan berekspresi, khususnya bagi mahasiswa, perlahan mulai dibatasi kembali oleh aparatur negara.

​Senada dengan hal tersebut, Sejarawan sekaligus Politisi PDI Perjuangan, Boni Triyana, menekankan bahwa peringatan tiga dekade ini merupakan momentum krusial untuk merawat ingatan kolektif bangsa, terutama bagi Generasi Z. Rangkaian acara yang bergulir secara nasional ini akan bermuara pada peresmian monumen Kudatuli pada 27 Juli mendatang.

​Secara khusus, Boni menitipkan pesan agar anak muda menjadikan sejarah sebagai pijakan berpolitik yang beradab. “Kalau nanti kamu sudah terpilih dipercaya rakyat dan berkuasa, jangan lagi lakukan apa yang pernah dulu dilakukan oleh penguasa terhadap kami,” pesannya dengan lugas.

​Pemilihan Posko Pandegiling di Surabaya sebagai salah satu titik sentral peringatan bukanlah tanpa alasan. Setiawan, perwakilan Panitia Nasional, menjelaskan bahwa posko tersebut adalah episentrum perlawanan arus utama terhadap represi rezim di masa lalu, sekaligus denyut nadi perjuangan kelompok Promeg di Jawa Timur.

​Ke depan, Posko Pandegiling dipastikan tidak hanya menjadi sekadar monumen masa lalu. Melalui arahan Puti Guntur Soekarno, posko bersejarah ini akan ditransformasikan menjadi ruang edukasi berkelanjutan. Pameran foto sejarah perjuangan akan dipermanenkan dan sebuah perpustakaan bernama ‘Pustaka Perjuangan’ akan didirikan. Fasilitas ini disiapkan agar generasi muda dapat menyerap langsung nilai-nilai keadaban politik, guna memastikan bahwa demokrasi yang ditebus dengan keringat dan darah ini tak lekang dimakan zaman.(mad/yu)