September 12, 2026

Isu Gempa Megathrust,Ketua Fraksi PDI-P DPRD Surabaya Dorong Instansi Segera Tanggap dan Imbau Masyarakat Tak Perlu Panik

Surabaya – Isu akan terjadinya gempa Megathrust semakin santer menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat karena adanya penumpukan energi di zona seismic gap. Pasalnya, Indonesia memiliki zona Megathrust dengan julukan ‘Ring of Fire’ atau Cincin Api Pasifik, yaitu wilayah pertemuan lempengan bumi yang menyimpan energi besar sejak ratusan tahun lalu berbentuk jalur tapal kuda dengan panjang kurang lebih 40.000 kilometer di sepanjang tepi Samudra Pasifik yang menjadi pusat aktivitas gempa bumi dan letusan gunung berapi paling aktif di dunia.

Jika kelak energi ini lepas, konon bisa menimbulkan gempa besar hingga terjadi tsunami berskala hebat, namun prediksi kapan terjadinya hingga kini masih dalam pantauan instansi terkait.

Masalahnya, ‘Ring of Fire’ atau Cincin Api Pasifik tersebut di Indonesia bergerak menyusup ke bawah lempeng Eurasia/Sunda di sepanjang batas panjang yang membentang dari bagian barat Sumatra hingga ke Jawa, Bali, dan Kepulauan Nusa Tenggara. Ketika lempeng-lempeng tersebut terkunci, tekanan dapat terakumulasi selama bertahun-tahun. Jika area yang terkunci tersebut tiba-tiba terlepas atau bergeser, maka kemungkinan gempa bumi yang sangat besar dapat terjadi.

Menanggapi isu akan terjadinya gempa Megathrust yang semakin santer menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya, H. Budi Leksono, S.H., mengimbau dan meminta masyarakat tidak perlu panik, karena dirinya telah berkoordinasi untuk mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya agar tanggap melakukan sosialisasi dan mitigasi bencana.

“Untuk melakukan serangkaian upaya mengurangi resiko dan dampak buruk akibat bencana. Baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Hal ini berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, karena kegiatan mitigasi bencana ini penting untuk menekan korban jiwa serta kerugian materi,” tegas H. Budi Leksono, S.H., yang biasa akrab disapa Haji Buleks, Jum’at (11/09/2026) siang.

Buleks mengingatkan, agar masyarakat tetap berdo’a dan selalu ikuti imbauan pemerintah untuk meminimalisasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan tidak perlu panik.

“Tak ada satu pun manusia di muka bumi ini menginginkan musibah atau bencana, namun jika pertanda alam telah semakin jelas, maka kita sebagai manusia harus selalu tetap bertawakal dan berikhtiar untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan tersebut,” ungkapnya.

Buleks pun meminta Pemerintah Kota Surabaya agar lebih intensif memberikan imbauan dan sosialisasi agar masyarakat lebih memahami persoalan ini.

“Sehingga ketika masyarakat telah teredukasi soal isu Megathrust, maka masyarakat akan memahami harus bagaimana, dimana dan kemana jika hal ini benar-benar terjadi dan hal itu ketika mitigasi bencana telah dipahami oleh masyarakat,” ujarnya.

Terakhir, Buleks juga mengingatkan kembali agar masyarakat tidak perlu panik menanggapi berbagai ramalan atau prediksi di media sosial yang menyebut gempa akan terjadi dalam waktu dekat.

“Sekali lagi tidak perlu panik. Masyarakat diimbau untuk fokus pada mitigasi bencana, seperti mengenali jalur evakuasi dan menyiapkan tas siaga bencana seperti ketentuan yang telah ditetapkan,” pungkasnya.

Pemkot Surabaya Siap Pantau Sesar Aktif Megathrust

Sementara itu, berdasarkan pantauan bahwa Pemerintah Kota Surabaya berencana akan memasang alat monitoring untuk memantau pergerakan sesar aktif dengan menggandeng ITS dalam waktu dekat.

Pasalnya, Kota Surabaya diketahui akan dilalui atau dilewati dua segmen sesar Megathrust, yakni Sesar Surabaya dan Sesar Waru. Hingga saat ini, Jum’at (11/09/2026) sore, kabarnya rencana pemasangan alat tersebut masih dalam tahap koordinasi, termasuk terkait kebutuhan perangkat dan alokasi anggaran.

Selain pemantauan, BPBD juga diminta oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk tetap terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai kesiapsiagaan dan langkah evakuasi jika kemungkinan terjadi gempa, termasuk mitigasi bencana.(yu)